Cari Blog Ini

Jumat, 13 Agustus 2010

Gempa Jakarta, siapa yang paling terancam ?


Sehubungan dengan pemberitaan VivaNews Siaga Skala 9 Richter ini saya ingin memberikan pendapat pribadi yang tentusaja perlu dilihat sebagai pendapat personal. Ada yang perlu diingat khususnya untuk Jakarta.
Perumahan padat dan rapat harus menjadi sasaran utama untuk mitigasi gempa. Perumahan ini harus lebih didahulukan karena risikonya jauh lebih besar ketimbang bangunan tinggi.
Ancaman gempa di Jakarta hampir selalu gempa yang berhubungan dengan aktifitas gunungapi. Ini sekali lagi dari catatan sejarah. Namun memang perlu diwaspadai patahan-patahan “tidur” yang harus diteliti dan dikaji …secara khusus masing-masing individu patahan-patahan ini.
Pak Surono dari Badan Geologi (Vulkanologi) ngobrol denganku dan bercerita :
“Saya lebih dr 25 thn ngurus gempa vulkanik untungnya, blum ada gempa vulkanik yg lebih besar dr 2 skala Richter. 
Duuuuh mudah2an, sampai aku pensiun gempa yg terkait aktivitas vulkanik tetap tdk pernah lebih besar dr 2 skala Richer. Bisa dibayangkan orang2 Kediri, Malang, Yogya, Solok dll yg dekat gunung aktif dan sering meletus lapor ke saya “Pak rumah saya hancur krn gempa vulkanik“. Jika itu terjadi, saya hanya bisa jawab “waduuh kok bisa ya“.
Dengan demikian jelas bahwa khwatir itu tidak apa-apa tetapi jangan panik !
Ada beberapa penelitian yang saya baca menyebutkan ancaman terbesar akibat dari goyangan gempa ini bukan pada bangunan atau gedung tinggi tetapi justru perumahan padat. Kalau toh gedung tingginya ada yang runtuh bisa dipastikan perumahannya sudah lebih parah. Ini sangat logis, pertama karena bangunan gedung tinggi rata-rata dibuat secara engineering lebih bagus ketimbang perumahan padat. Juga jumlah penduduk di daerah padat ini sangat tinggi kerapatannya.
Daftar 20 kota yang paling tinggi risiko gempanya menurut GeoHazards International’s study of ‘Cities Vulnerable to Earthquake’ adalah :
  1. Kathmandu, Nepal: 69.000
    Sebuah studi oleh GeoHazards Internasional memperkirakan gempa berkekuatan 6,0 akan membunuh sekitar 69.000 orang. Di kota ini pertumbuhan penduduk sekitar 1 juta, kabupaten yang paling padat penduduknya di Nepal.
  2. Istanbul, Turki: 55.000
    Sebuah gempa besar akan membunuh 55.000 diperkirakan di kota ini yg penduduknya 10 juta. Kota ini berada  di persimpangan lempeng tektonik Eurasia. Gempa tahun 1999 Kocaeli menyebabkan 18.000 mati dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
  3. Delhi, India: 38.000
    Hampir 14 juta orang tinggal di Delhi, sebuah kawasan luas lebih dari 500 mil persegi. Sebuah gempa berkekuatan 6,0 di sini diperkirakan akan membunuh 38.000 jiwa.
  4. Quito, Ekuador: 15.000
    Sebuah pukulan gempa berkekuatan 6,0 pada Quito pegunungan yang berpenduduk 1,8 juta orang, akan membunuh diperkirakan 15.000. Sebuah gempa pada 1797 menyebabkan jumlah meninggal sebanyak 40.000. Pada bulan Oktober 2006, gempa 4,1 melanda kota tanpa menyebabkan kerusakan besar. Sebuah ancaman yang lebih besar: gunung berapi. Kota ini dikelilingi oleh gunung api dan satu ancaman besar pada satu gunung aktif .
  5. Manila, Filipina: 13.000
    Dengan 1,6 juta orang berdesakan dalam sekitar 15 mil persegi, Manila merupakan salah satu kota terpadat di dunia. Sebuah gempa 6,0 di sini akan membunuh sekitar 13.000 orang.
  6. Islambad / Rawalpindi, Pakistan: 12.500
    Sebuah gempa 6,0 di ibukota Pakistan, yang berpenduduk 1 juta orang, diperkirakan akan membunuh 12.500 orang.
  7. San Salvador, El Salvador: 11.500
    Dengan luas 220 mil persegi sebagai Ibu kota negara, berpenduduk sekitar 2,2 juta orang, telah menjadi situs berbagai gempa bumi sepanjang sejarahnya, terakhir pada tahun 2001. Sebuah gempa berkekuatan 6,0 diperkirakan akan membunuh 11.500 jiwa.
  8. Mexico City, Meksiko (dengan San Salvador): 11.500
    Luas kota ini 220-mil sebagai Ibu kota negara, berpenduduk 2,2 juta orang, telah menjadi situs berbagai gempa bumi sepanjang sejarahnya, terakhir pada tahun 2001. Sebuah gempa berkekuatan 6,0 diperkirakan akan membunuh 11.500 jiwa.
  9. Izmir, Turki (di dasi dengan San Salvador dan Mexico City): 11.500
    Kota ini berpenduduk sebesar 3,5 juta orang, terletak di persimpangan lempeng Afrika dan lempeng tektonik Eurasia, adalah kota ketiga-terbesar di negara ini. Sebuah gempa 6,0 di sini akan membunuh 11.500 orang diperkirakan.
  10. Jakarta, Indonesia: 11.000
    Kota ini memiliki populasi sebesar 18.400.000 dan diperkirakan pada tahun 2.025 akan memiliki jumlah penduduk 24.000.000. Sekitar 11.000 orang diperkirakan akan terancam jiwanya jika terkena gempa bumi 6,0 di sini.
  11. Tokyo, Jepang: 9000
    Sejumlah 9.000 orang diperkirakan akan terbunuh jika gempa 6,0 melanda kota yang berpenduduk 8 juta orang ini, Kota ini merupakan kota metropolis yang paling rentan terhadap gempa di Dunia. Gempa besar telah melanda kota beberapa kali: 1703, 1782, 1812, 1855 dan 1923. Bencana 1923, gempa berkekuatan 8,3, menewaskan lebih dari 140.000.
  12. Mumbai, India: 8.000
  13. Guayaquil, Ekuador: 4.300
  14. Bandung, Indonesia: 3600
  15. Santiago, Chili: 2.700
  16. Tashkent, Uzbekistan: 2.500
  17. Tijuana, Meksiko: 1.800
  18. Nagoya, Jepang: 900
  19. Antofagasta, Chili: 800
  20. Kobe, Jepang: 300
  21. Vancouver, Kanada: 100
Penelitian diatas dibuat tahun 2008, menunjukkan dua kota di Indonesia yaitu Bandung dan Jakarta.
Tahun 2004, Brian E. Tucker dari GeoHazards memperingatkan masalah akan menjadi lebih buruk, mengutip sebuah studi dari korban gempa diperkirakan berdasarkan pertumbuhan penduduk dan perubahan konstruksi di India utara. Satu penemuan yang menakutkan antara lain kemungkinan apabila terjadi sebuah gempa berkekuatan 8,3 di Shillong mungkin membunuh 60 kali lebih banyak orang tewas saat gempa ukuran yang sama yang melanda pada tahun 1897, meskipun penduduk wilayah ini meningkat hanya faktor dari sekitar delapan sejak saat itu. Alasan: Pergantian rumah bambu satu lantai dengan struktur beton-frame bertingkat, buruk dibangun, sering di lereng curam, telah membuat populasi yang jauh lebih rentan.
Pengamatan selintas di Jogja dan juga padang terlalu di dominasi oleh runtuhnya gedung BPKP dan STIE (Jogja) dan Hotel (Padang). Namun statistiknya justru memperlihatkan korban banyak yang mengalami musibah ini dirumah atau di lingkungannnya sendiri.
Kalau memang penelitian dan pengamatan diatas itu benar, maka sasaran utama mitigasinya bukan pada pemilik-pemilik gedung. tetapi justru masyarakat awam yang memiliki risiko lebih besar. Lagipula pemilik-pemilik gedung ini sudah akan dengan sendirinya memberikan services ke tenant-tenant (penyewa) ruangan gedungnya. Juga gedung ini dibangun dengan IMB yg relatif lebih memadai ketimbang bangunan rumah tinggal.
Sekali lagi kalau berhubungan dengan pendanaan dan alokasi dana mitigasi, saya lebih cenderung mengutamakan perbaikan atau penjelasan ke rumah milik  masyarakat awam didaerah yang paling padat.
Salam waspada !

Geokontroversi

Geokontroversi: Perdebatan-perdebatan dalam Geologi


Geologi lahir sebagai ilmu yang bersistematika baru dua ratus tahun yang lalu, sangat muda bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu fisik lainnya (astronomi, biologi, fisika, kimia) yang telah muncul sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Mungkin karena masih muda itulah, maka sejak lahirnya geologi telah membawa kontroversi-kontroversi.
Great Geological Controversies (Hallam, 1989)
Great Geological Controversies (Hallam, 1989)
Anthony Hallam, penulis beberapa buku geologi terkenal (a.l. “A Revolution in the Earth Sciences : from Continental Drift to Plate Tectonics” – Oxford University Press, 1973) menyebutkan ada empat geokontroversi terbesar : (1) neptunists vs. plutonists, (2) catasthrophists vs. uniformists, (3) young Earth vs. old Earth, dan (4) fixists vs mobilists. Hallam menjelaskan keempat kontroversi tersebut dalam bukunya “Great Geological Controversies” – Oxford University Press, 1989.
Atas empat geokontroversi tersebut, boleh saya tambahkan geonontroversi ke-5, yaitu (5) expanding Earth. Bila ada kontroversi lain yang sifatnya global dan signifikan pengaruhnya kepada ilmu geologi, silakan kawan-kawan tambahkan. Berikut ini adalah ringkasan kelima geokontroversi tersebut, sekadar mengingatkan kembali. Beberapa kontroversi tersebut telah dianggap selesai, meskipun sebenarnya belum tentu selesai bila pada masa yang akan datang ditemukan bukti-bukti baru yang bertentangan lagi, maka boleh saja babak baru geokontroversi tersebut digelar lagi.
Neptunists vs. Plutonists
Seorang pionir geologi Jerman, Abraham Gottlob Werner, pada abad akhir ke-18 mengeluarkan teori bernama neptunisme saat ia menafsirkan sebuah urutan batuan yang ditemukannya yang disusun dari bawah ke atas oleh batuan beku, batuan metamorf dan batuan sedimen. Menurutnya, Bumi dulu pernah ditutupi oleh lautan asal (primeval ocean) yang mengatasi seluruh permukaannya bahkan pegunungan-pegunungan tertinggi. Teorinya ini disebut neptunisme, mengambil nama dewa lautan bangsa Latin : Neptunus. Batuan-batuan beku dan metamorf juga ditafsirkannya sebagai hasil pengendapan dari air laut. Teorinya ini diterima secara luas saat itu, tetapi kesulitan pun segera muncul ketika harus menjelaskan asal lava basal dan gunungapi. Akhirnya, Werner mengatakan bahwa aktivitas volkanik dan lava basal itu sebagai akibat pembakaran lapisan batubara di tambang-tambang bawah tanah. Tetapi jawaban Werner ini tak memuaskan ketika dilakukan penelitian di banyak tempat di Eropa. Maka, pandangan berlawanan pun segera diajukan James Hutton yang mengatakan bahwa tak semua granit itu primordial sebab ia menemukan banyak intrusi granit di Skotlandia yang menerobos batuan sedimen yang menutupinya. Artinya, intrusi granit ini lebih muda daripada batuan sekelilingnya. Teori Hutton ini disebut plutonisme. Neptunisme Werner kehilangan penganut, memasuki abad ke-19 plutonisme banyak dianut orang. Demikian, tulis Hallam (1989, 2000).
Kini, kita tahu neptunisme hanya benar untuk sedimen karbonat in-situ; sisanya semua batuan adalah plutonisme dan modifikasinya melalui proses-proses daur batuan. Meskipun demikian, masih ada masalah tentang granitisasi batuan sedimen yaitu bahwa granit tak semuanya dihasilkan oleh plutonisme, ada proses migmatisasi dan magmatisasi batuan sedimen yang akan mengubahnya menjadi granit, lahirlah I-type dan S-type granite.
Catastrophists vs. uniformists
Istilah-istilah katasrofisme dan uniformitarianisme diciptakan oleh William Whewell pada tahun 1832. Tokoh utama katastrofisme pada awal abad ke-19 adalah para ilmuwan Prancis : Georges Cuvier dan Leonce Elie de Beaumont. Teori katastrofisme mereka didasarkan atas pekerjaan stratigrafi Tersier di Cekungan Paris. Cuvier melihat urutan stratigrafi tersebut sebagai akibat peristiwa-peristiwa bencana besar atau malapetaka (katastrofi) yang tak hanya mengganggu urutan lapisan dan menyebabkan perubahan muka laut yang dramatik tetapi juga menyebabkan kepunahan massa fauna. Elie de Beaumont mengikuti Cuvier bahwa lapisan-lapisan yang miring dan terlipat yang diamatinya mengartikan suatu gangguan yang mendadak, bukan akibat proses yang lambat dan berangsur (gradual). Di pihak lain, berdiri Charles Lyell, seorang pengikut James Hutton, yang membela perubahan lambat dan gradual dalam proses-proses geologi yang disebut prinsip uniformitarianisme. Perdebatan sengit pun terjadi di Inggris selama tahun 1820-an dan 1830-an. Di pihak katastrofisme ada William Buckland dan Adam Sedgwick yang mengajukan teori katastrofik bernama teori diluvial, yaitu bahwa banyak fenonema geologi terjadi sebagai akibat banjir zaman Nuh. Meskipun teori diluvial tak bertahan lama, para pembela katastrofik mengatakan bahwa sejarah Bumi itu punya arah, “direction” tertentu, semakin maju; bukan keadaan yang tetap sama di semua zaman, “steady state” seperti yang dibela Charles Lyell. Begitulah ringkasan perdebatan tersebut, seperti ditulis Hallam (1989, 2000).
James Hutton (foto dari website: http://scottishgeology.com/)
James Hutton (foto dari website: http://scottishgeology.com/)
Kini, kita melihat bahwa proses-proses dalam sejarah Bumi terjadi baik melalui uniformitarianisme maupun katastrofisme. Gejala sedimentasi yang kini terjadi di muara sungai atau pantai membentuk struktur-struktur sedimen yang persis sama yang kita amati terdapat di batuan-batuan berumur Kapur atau Miosen misalnya. Proses modern ternyata sama dengan proses puluhan juta tahun yang lalu –uniform atau seragam. Kita juga melihat proses kompaksi dan litifikasi sedimen menjadi batuan yang lama, berangsur atau gradual. Tetapi, kita melihat juga bahwa terdapat “directionalism” dalam perkembangan makhluk hidup dari masa yang lebih lama ke masa yang lebih baru berdasarkan peninggalan-peninggalan fosil. Alam tak tinggal tetap, tidak steady state. Bencana-bencana besar yang memunahkan massa fauna dan flora pun rutin terjadi, yang terbesar misalnya pada akhir Perem dan akhir Kapur. Kombinasi konsep-konsep uniformists dan catasthropists-lah yang terjadi.
Young Earth vs. Old Earth
Menjelang pertengahan abad ke-19 terdapat dua pengutuban pendapat tentang berapa umur Bumi. Para fundamentalis Kristen dan Katolik berdasarkan penafsiran mereka atas Alkitab menganggap Bumi ini umurnya hanya 6000 tahun. Para ahli geologi, mengikuti Charles Lyell mengatakan bahwa umur Bumi jauh lebih tua dari itu, tetapi mereka tak dapat mengatakan lebih detail seberapa tua yang dikatakan tua itu. Mendapatkan tantangan itu, lalu dimulailah berbagai usaha mengukur umur Bumi. Usaha serius pertama dilakukan John Phillips yang mengukur kumulasi lapisan-lapisan batuan dan dengan mengacu kepada kecepatan sedimentasi per tahun, akhirnya ia mendapatkan angka 96 juta tahun untuk umur pembentukan kerak Bumi. Beberapa tahun kemudian, seorang ahli fisika Skotlandia William Thompson (kemudian lebih terkenal dengan nama Lord Kelvin) mengukur umur Bumi menggunakan metode berbeda. Lord Kelvin menggunakan asumsi yang saat itu telah diyakini banyak orang bahwa Bumi pada mulanya merupakan bola lebur yang panas yang mendingin secara perlahan. Dari perhitungan-perhitungan yang dilakukannya, keluarlah angka 98 juta tahun sebagai umur Bumi. Umur Bumi hasil perhitungan Phillips dan Kelvin mirip, sehingga semula diyakini para ahli geologi. Tetapi umur tersebut terlalu muda bagi keseluruhan evolusi, begitu menurut Charles Darwin dan para pengikutnya. Perdebatan pun dimulai, metode Kelvin dipertanyakan, dan perdebatan semakin sengit karena gaya Lord Kelvin yang dogmatik, bahkan lalu ia merevisi hitungannya lagi pada tahun 1897 menjadi hanya 24 juta tahun. Thomas Chamberlain, ahli geologi Amerika berspekulasi bahwa mungkin ada sumber energi yang terkunci di dalam atom yang oleh para ahli fisika abad ke-19 belum disadari. Sumber energi ini barangkali bisa digunakan untuk menghitung umut Bumi. Penemuan radioaktivitas pada 1896 oleh Henry Bacquerel membetulkan pendapat Chamberlain ini dan pengukuran umur menggunakan radioaktivitas pun segera dimulai dan segera meruntuhkan semua pendapat Lord Kelvin. Pada awal abad ke-20 telah umum disepakati bahwa umur Bumi harus beberapa ribu juta tahun, jauh lebih tua dari hitungan siapa pun. Begitu, ringkasan dari Hallam (1989, 2000).
Umur Bumi yang sebenarnya harus diukur di intinya yang paling dalam sebab itulah bagian tertua Bumi. Tentu saja tak ada materi daripadanya yang bisa diambil untuk diukur umurnya. Tetapi para ilmuwan mengetahui bahwa inti Bumi tersusun dari nikel dan besi, suatu susunan yang mirip dengan meteorit besi. Dari astronomi, kita pun tahu bahwa Bumi semula terbentuk dari puing-puing di Alam Semesta semacam meteorit tersebut yang saling berbenturan lalu berakumulasi menjadi materi debu dan gas yang panas lalu memadat lagi. Berdasarkan hal itu, maka umur meteorit yang jatuh di Bumi adalah umur Bumi juga sebab sumber meteor dan materi pembentuk Bumi dilahirkan bersamaan. Ahli fisika Amerika pertama yang mengukur umur Bumi dengan cara mengukur umur meteorit adalah Claire Patterson pada tahun 1956 dan menemukan bahwa umur Bumi adalah 4550 juta tahun atau 4,55 milyar tahun (Luhr et al., 2003; menurut Gradstein et al. 2004 : 4560 juta tahun). Umur Bumi setua itu mungkin benar bila kita mempercayai metode perhitungan umur menggunakan radioaktivitas sebab sampel batuan paling tua saat ini adalah ortogenes Acasta yang ditemukan di Inti Benua Slave di Canada yang umurnya 4031 juta tahun (Bowring dan Williams, 1999). Mineral tertua yang terukur adalah detrital zircon dari metakonglomerat di Australia Barat yang umurnya 4408 juta tahun (Wilde et al, 2001). Pembentukan Bumi sendiri harus lebih tua dari batuan dan mineral tertua itu. Berapa persisnya umur Bumi itu kita tak akan tahu sebab sampel di inti Bumi tak akan pernah didapatkan, tetapi umur 4560 juta tahun diterima banyak pihak. Meskipun demikian, para kreasionis, yaitu golongan yang menolak evolusi, sampai saat ini masih meyakini bahwa Bumi hanyalah beberapa ribu tahun umurnya, bukan beberapa ribu juta tahun; dan menurut mereka metode perhitungan menggunakan radioaktivitas adalah salah.
Fixists vs. Mobilists
Pada akhir abad ke-19, para ahli geologi umumnya telah bersepakat bahwa Bumi itu secara perlahan mendingin dan berkontraksi dengan berjalanya waktu, dan banyak yang berpendapat bahwa jalur-jalur pegunungan adalah sebagai akibat kontraksi ini (sering dibandingkan dengan kisut kulit jeruk yang sudah mengering). Para ahli geologi di Eropa dan Amerika saat itu percaya bahwa jalur-jalur pegunungan ini seluruhnya disebabkan gaya-gaya geologi vertikal di bawah pegunungan ini. Tak ada yang memikirkan kemungkinan bahwa pegunungan-pegunungan ini disebabkan gaya lateral sebab model ini akan sangat bertentangan dengan model Bumi yang stabil. Tetapi ternyata ada juga yang berani menantang para stabilists ini, yang mengatakan bahwa pegunungan-pegunungan tersebut disebabkan gaya lateral melalui pergerakan benua yang hanyut (continental drift), dialah Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi dan geofisika Jerman. Wegener memang bukan orang pertama yang mengemukakan bahwa benua-benua kemungkinan bergerak, sebelumnya ada Snyder di Prancis dan Taylor di Amerika, tetapi Wegener-lah yang mengemukakannya secara sistematik dan dengan bukti-bukti yang kuat. Wegener menantang teori pembentukan pegunungan melalui pendinginan dan kontraksi Bumi. Misalnya, mengapa kerutan pegunungan itu tidak tersebar seragam di mana-mana di permukaan Bumi, tetapi hanya di jalur-jalur tertentu yang sempit memanjang. Teori Bumi mendingin karena panasnya hilang terpancar ke angkasa luar juga bertentangan dengan penemuan baru saat itu bahwa produksi panas justru terus terjadi melalui radioaktivitas di batuan-batuan penyusun Bumi. Wegener bahkan berteori bahwa dulu pada masa Mesozoikum ada superbenua besar yang disebutnya Pangaea, yang kemudian retak dan pecah lalu fragmen-fragmennya bergerak menjauh membuka Samudera Atlantik dan Hindia. Gerak fragmen-fragmen benua ini akhirnya bertubrukan satu sama lain dan membentuk jalur-jalur pegunungan.
hanyutan benua sejak dari Pangea
hanyutan benua sejak dari Pangea
Pegunungan Alpina dan Himalaya terbentuk karena konvergensi Afrika dan India dengan Eurasia. Wegener mengajukan bukti-bukti bahwa benua-benua yang sekarang terpisah itu dulu pernah bersatu, misalnya bukti kesamaan fosil, jalur pegunungan yang terputus, kesamaan lapisan es di benua-benua belahan Bumi bagian selatan, dsb. Tetapi Wegener tak menemukan mekanisme penyebab hanyutan benua itu. Rotasi Bumi pernah dikemukakannya sebagai penyebabnya, tetapi tidak diterima.
Perlawanan atas teori hanyutan benua Wegener semula tidak sengit, tetapi menjadi sengit pada waktu jeda di antara dua Perang Dunia. Perlawanan utama berasal dari para ahli geofisika yang mengatakan bahwa Bumi memiliki kekuatan terlalu besar untuk membiarkan benua-benua bermigrasi hanyut ke sana ke mari di atas permukaannya. Meskipun demikian, Wegener mendapat dukungan dari beberapa tokoh geologi seperti Emile Argand, Alexander du Toit dan Arthur Holmes. Dan Arthur Holmes-lah yang menemukan mekanisme yang memuaskan untuk terjadinya hanyutan benua tersebut, yaitu gerak konveksi di mantel Bumi bagian atas. Meskipun demikian, yang percaya teori hanyutan benua dianggap sebagai orang-orang aneh, maka menjelang tahun 1950 teori hanyutan benua Alfred Wegener dilupakan orang dan ditolak banyak ahli ilmu kebumian. Namun selepas Perang Dunia II yang terjadi justru sebaliknya ketika banyak riset geomarin dilakukan atas dasar lautan terutama pada magnetisme batuan dan topografi dasar lautan. Banyak sekali para ahli geologi dan geofisika yang terlibat dalam penelitian-penelitian selama akhir tahun 1950-an dan sepanjang tahun 1960-an yang lalu akhirnya dengan yakin membenarkan teori hanyutan benua Wegener dan menghasilkan teori elegan tektonik global yang baru atau yang lebih dikenal sebagai teori tektonik lempeng. Benua-benua sungguh bergerak. Inilah kemenangan para mobilists atas para fixists yang mengatakan bahwa benua-benua terikat ke akarnya tak mungkin bergerak. Demikian, ringkasan dari Hallam (1973, 1989, 2000 yang juga ikut membidani kelahiran teori tektonik lempeng).
Kini, empat puluh tahun setelah kelahiran teori tektonik lempeng, teori ini dan hanyutan benua telah menjadi fakta. Pengukuran-pengukuran dengan GPS menunjukkan bahwa benua-benua ini memang bergerak. Paleomagnetik menunjukkan bahwa benua-benua ini punya riwayat yang panjang di berbagai posisi di atas permukaan Bumi. Sebagai contoh, posisi Kalimantan, Papua, Banggai, Jawa, dll. pada beberapa puluh juta tahun yang lalu tidak di posisinya sekarang. Mantle tomography menunjukkan bahwa konveksi sebagai penyebab benua-benua ini bergerak adalah benar. Teori tektonik lempeng pun semakin berkembang, antara lain dengan terrane concept yang mengatakan bahwa benua pun tersusun atas fragmen-fragmen (terranes) yang lebih kecil yang masing-masing bisa berbeda geologinya dan asalnya yang lalu saling bergerak beradu membentuk benua. Meskipun faktanya gamblang, beberapa ilmuwan masih mempunyai keberatan atas teori tektonik lempeng. Dalam beberapa hal, memang ada beberapa fenomena geologi yang bila diterangkan dengan gerak lateral lempeng tidak memuaskan, dengan mekanisme isostasi vertikal lebih memuaskan; tetapi mekanisme tersebut hanyalah a companion terhadap tektonik lempeng, jauh dari menolaknya.
Expanding Earth (Bumi Mengembang)
Teori expanding Earth muncul sebelum Perang Dunia I sezaman dengan Wegener mengemukakan teorinya tentang hanyutan benua. Teori ini muncul sebagai perlawanan atas sebuah teori bahwa Bumi menciut melalui kontraksi. Pada awalnya, teori ini mengatakan bahwa Bumi mengembang akibat perubahan struktur molekul dan atom di dalam inti Bumi dan mantel bagian bawah. Sekalipun mengembang, massanya tetap sebab terjadi perubahan densitas. Teori ini pun mendapatkan inspirasinya dari teori expanding Universe (Hubble, 1920). Siapa tokoh utamanya tidaklah jelas, tetapi saat teori ini berkembang kembali mulai tahun 1950-an terdapat beberapa tokoh utamanya yaitu Carey, Wesson dan Steiner. Pada perkembangan selanjutnya, expanding Earth ini dihubungkan dengan pemekaran dasar samudera dan perpindahan benua atau teori tektonik lempeng. Di antara para tokohnya, terdapat perbedaan pendapat tentang laju pengembangan Bumi, yang terbagi ke dalam (1) slow expansion –radius Bumi bertambah lebar kurang daripada 1 mm/tahun), (2) rapid expansion (dengan laju pertambahan sekitar 4-10 mm/tahun), (3) expansion-contraction bergantian terjadi dengan laju bervariasi.
Slow expansion Earth mendapatkan dukungan dari beberapa ilmuwan seperti Arthur Holmes (1965) yang menghitung bahwa laju ekspansi tersebut sebesar 0,24-0,6 mm/tahun berdasarkan perpanjangan lama hari sebesar 2 milidetik per abad. Rapid expansion Earth terutama didukung oleh penelitian-penelitian Carey pada tahun 1950-an yang merekonstruksi Pangaea dan Samudera Pasifik dan menemukan bahwa agar rekonstruksi itu sesuai/benar diperlukan laju ekspansi radius Bumi sebesar 4,5 mm/tahun. Owen (1976) juga berdasarkan rekonstruksi benua dan pemekaran dasar samudera menghitung laju sebesae 6,7 mm/tahun dalam 180-200 juta tahun terakhir. Berdasarkan laju pemekaran dasar samudera dan subduksi serta peta anomali magnetik di dasar samudera, Steiner (1978) menemukan laju 5,2-7,8 mm/tahun. Alternating expansion and contraction didasarkan pada fakta bahwa sepanjang sejarah Bumi terjadi transgresi dan regresi global (Phanerozoic cycles of global sea level).
Teori expanding Earth mendapatkan perlawanan dari beberapa ahli ilmu kebumian yang mengatakan bahwa mekanisme pemekaran dasar-samudera tidak berkonotasi dengan pemekaran radius Bumi sebab materi samudera yang dikembangkan itu akan kembali ke dalam mantel Bumi melalui subduksi sebagai bagian siklus yang dikenal sebagai siklus Wilson. Para pembela expanding Earth mengatakan bahwa diameter Bumi masa lalu tak mungkin sama dengan diameternya masa kini sebab awal Bumi terjadi melalui collision berbagai puing kosmik yang lalu bersatu membentuk inti Bumi lalu berdiferensiasi membentuk mantel lalu akhirnya kerak Bumi dengan diameter yang makin melebar. Matahari kelak akan membesar menjadi raksasa merah (red giant star) oleh pengembangannya, maka tak mengherankan Bumi pun memekarkan diameternya sepanjang evolusinya. Dengan fast expanding Earth, maka diameter Bumi sekarang 18 % lebih lebar daripada saat Pangaea ada. Namun pengukuran terbaru yang akurat menggunakan paleomagnetik atas radius Bumi 400 juta tahun yang lalu menemukan bahwa radius Bumi tersebut 102 % daripada yang sekarang (McElhinney et al, 1978). Penghitungan momen inersia untuk Bumi dalam 620 juta tahun terakhir pun mengindikasikan bahwa radius Bumi tak berubah (Williams, 2000). Mekanisme yang tak memuaskan dan pengukuran yang menunjukkan tidak adanya perubahan dalam diameter Bumi untuk beberapa ratus juta tahun terakhir telah menyebabkan teori expanding Earth ditolak banyak komunitas sains.
Demikianlah beberapa kontroversi dalam geologi yang berjalan melalui perdebatan-perdebatan di antara para pendukungnya.

10 Keajaiban Geologis Di Dunia Yang Jarang Di Jumpai Orang

1. The Wave. Between Arizona and Utah – USA
Ada di perbatasan Arizona dan Utah. terbuat dari pasir yang berumur 190 juta tahun yang berubah menjadi batu.
2. Antelope CanyonArizona – USA
Kalau ini sih sering di kunjungi dan di foto-foto in. berada di Navajo Land, dekat Page,Arizona di Amerika Selatan.
3. Great Blue Hole (Belize)
berada di jarak 60 mil dari kota Belize. lingkaran yang berdiameter 0.4 kilometer. tempat yang enak untuk diving. dalamnya sekitar 480 kaki atau 145 meter. karena kedalamannya itulah warna nya jadi biru tua Bisa di liat video dimana seorang penyelam menemukan tubuh penyelam lainnya yang mati terkapar di dasar great blue hole ini. masih lengkap dengan kostum diving juga tabung oksigennya.
4. Crystal Cave of the Giants (Mexico)
Terletak di dalam pertambangan di Chihuahua Mexico. warna dan bentuknya bermacam-macam. Warnanya ada yang emas dan Silver.
5. Eye of the Sahara (Mauritania)
Berada di baratdaya gurun sahara. berdiameter 30 mil sehingga terlihat jelas dari angkasa. bentuknya yang bulat itu masih merupakan misteri.coba ke google earthdan ketik “Mauritania”, pasti langsung keliatan Eye of Sahara ini!
6. Blue Lake Cave (Brazil)
7. Giants Causeway (Ireland)
Ini disebabkan oleh reaksi vulkanik pada saat gunung meletus. kebanyakan bentuknya adalah hexagonal. yang tertinggi ada 12 meter-an.
8. Hell Gate (Uzbekistan)
Biasa disebutkan “the door to hell”. terletak di dekat kota kecil, Darvaz. 35 tahun yang lalu, tim geologis sedang menggali untuk mencari sumber gas. namun yang mereka temukan adalah sebuah goa besar yang berapi. dikirakan goa ini akan terus membakar gas selamanya. Dan ini adalah pintu masuk rumahnya.
kalo mau berkunjung silahkan masuk
9. Wave Rock (Australia)
terbuat alami dengan sendirinya. diberi julukan “Wave Rock” karena bentuknya menyerupai ombak. tingginya bisa mencapai 15 meter dan panjangnya sampai 110 meter.
10. Chocolate Hills (Philippines
luasnya mencapai 50 kilometer persegi. terletak di Bohol, Filipina. Itulah sepuluh keajaiban geologis didunia, tambahin lagi indonesia punya dan australia
Green Canyon ( Beautiful Indonesian )
Ini green canyon not Grand Canyon
Tempat berlibur yang sangat indah ini ternyata terletak tidak jauh dari kita! tepatnya di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. tempat berlibur ini sangat disarankan untuk warga indonesia. lumayan kan, bagus2 tapi gak mahal dan deket hehehe……
Danau 3 Warna (Indonesia
Danau tiga warna di puncak kawah Gunung Kelimutu yang menjadi salah satu darikeajaiban dunia ini, benar-benar mempesona dengan keindahan dan misteri yang tersimpan di puncak gunung setinggi 1.690 meter di atas permukaan laut itu. Mungkin pada saat ini warna2nya sudah berubah akibat tangan2 jahil manusia.Itu foto diambil tahun 1929 kalo sekarang mah gak tau .
Danau Berwarna Pink (Australia)
Berada di sebuah pulau di Australia Barat. Matthew Flinders menemukannya pada tahun 1802 dan sampai sekarang tidak ada yang tahu mengapa danau itu bewarna pink

Geologi dan Stratigrafi daerah Bayat dan Sekitarnya Kab. Klaten Jawa Tengah


GEOLOGI DAN STRATIGRAFI DAERAH BAYAT (PERBUKITAN JIWO) DAN SEKITARNYA KABUPATEN KLATEN- JAWA TENGAH DAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL – D.I. YOGYAKARTA

Daerah penelitian terletak sekitar 13 km di sebelah tenggara Klaten Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan geologi dan stratigrafi daerah penelitian, dilakukan dengan metode Pemetaan Geologi Permukaan menggunakan peta       
Topografi Skala 1:25000 Sebagai Peta Dasar.

Bentang alam derah penelitian merupakan bentuk lanjut dari suatu Pegunungan Lipatan, terdiri dari perbukitan homoklin, perbukitan lipatan, perbukitan intrusi dan perbukitan lembah antiklin dengan sungai-sungai konsekuen, subsekuen dan obsekuen mengalir yang secara membentuk pola aliran dendritik.

Urutan – urutan stratigrafi mulai dari Satuan Metamorfi berumur Pretersier sampai satuan berumur Miosen tengah tersingkap dengan baik. Di Perbukitan Jiwo, diatas Satuan Morfologi ber umur Pratersier terletak secara tidak selaras satuan-satuan batugamping dan batupasir laut dangkal yang berumur Eosen Tengah, Formasi Wungkal dan Formasi Gamping. Secara tidak selaras dia tas Formasi Gemping terletak satuan-satuan endapan turbidit laut dalam yang berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Awal ( zona N.2 – N8) yaitu formasi Kebo, Formasi Butak, Formasi Semilir dan Formasi Nglanggran, satuan-satuan mana terletak pada zona Pengunungan Selatan Jawa Timur. Semua satuan tersebut, secara tidak selaras ditutupi oleh satuan batugamping yang berumur Mosen Tengah ( zona N-12), yaitu Formasi Oyo. Di Daerah penelitian juga terjadi pengintrusian diorit dan diabas diperkirakan terjadi pada awal Miosen Tengah dan intrusi diorit yang diperkirakan terjadi pada kala Pliosen.

Struktur-struktur geologi yang bekembang di daerah penleitian adalah struktur lipatan dan sesar-sesar naik, turun dan sesar mendatar. Struktur Geologi tersebut berkembang diperkirakan akibat belerjanya gaya kompresi beraarh hamper utara-selatan yang kemungkinan berlangasung dalam dua periode, pada awal kala Miosen Tengah sebelum Formasi Oyo diendapkan dan pada kala Pliosen setelah Formasi Oyo diendapkan. Bahan Galian yan gterdapat di daerah peneltian yang memiliki nilai ekonomis adalah marmer,batugamping, lempung, breksi tufa dan batuan beku.







Mineral

Welcome to the Minerals in Thin Section Database

Actinolite

Ca2(Mg, Fe+2)5Si8O22(OH)2


Photomicrograph of actinolite in a groundmass of Mg-rich chlorite in PPL.
Photomicrograph of actinolite in a groundmass of Mg-rich chlorite in x-nicols. The photo shows the upper first-order to mid second-order interference colours of actinolite.


Actinolite is an amphibole with moderately high relief, symmetrical extinction, and typical amphibole cleavage.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
basal sections-symmetrical, sections parallel to (100)-parallel
Colour/Pleochroism
colourless, sometimes pale to dark green/coloured varieties display pleochroism: colourless to shades of green
Interference Colours (birefringence)
upper first-order to mid second-order
Relief
moderate to high positive
Optic Sign
negative
Cleavage
two intersections at 56° and 124° (on {110})
2V
75°-88°
Crystal Form
columnar, bladed, or acicular crystals, elongate parallel to the c-axis, basal sections (cleavage visible) are diamond shaped.0
Alteration Products
chlorite, talc, carbonates
Twinning
simple and lamellar, {100} composition plane






Andalusite

Al2SiO5


Photomicrograph of andalusite in plane polarized light. Andalusite is colourless in ppl.
Photomicrograph of andalusite in crossed polars. The distinct chiastolite cross that is characteristic of andalusite is easily seen in this section.


Andalusite is an orthosilicate with high relief, and parallel extinction, with two good cleavages.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
parallel
Colour/Pleochroism
colourless/none (sometimes weak pleochroism visible)
Interference Colours (birefringence)
first-order white or gray
Relief
moderately high positive
Optic Sign
negative
Cleavage
two at 90°
2V
71°-88°
Crystal Form
crystals are elongate prisms, with square x-sections (chiastolite-dark cross-shaped inclusions of granite along diagonals)
Alteration Products
sericite, chlorite
Twinning
rare






Apatite

Ca5(PO4)3(F, Cl, OH)


Photomicrograph in PPL showing large apatite end section (indicated by arrows). Note: hexagonal shape. Green phenocryst is hornblende. Width of view is 0.85mm.



Apatite is almost always present in most igenous and metamorphic rocks, but in small amounts. Look closely at feldspar crystals on medium to high power to find apatite. The only common mineral that closely resembles it is dahllite.
Properties
Light Behavior
-
Extinction
Parallel
Colour/Pleochroism
Colourless
Interference Colours (birefringence)
Basal sections are commonly too small to give good interference figures.
Relief
Moderate, n > basal
Optic Sign
Negative
Cleavage
Imperfect basal {0001} shown as cross fractures. Larger crystals may show imperfect cleavage parallel to the length.
2V
none
Crystal Form
Commonly found as minute hexagonal prismatic crystals common and widely distributed, but commonly occurs in small amounts.
Alteration Products
none
Twinning
none




Augite

(Ca,Mg,)2Si2O6


Photomicrograph of augite in ppl. This example is a basal x-section on which two cleavage directions are visible. The width of the field of view is 1.35mm.
Photomicrograph of augite in x-nicols showing low to mid second-order interference colours, and simple twinning. The width of the field of view is 1.35mm.


Augite is a clinopyroxene that displays simple twinning, high relief, birefringence higher than that of enstatite, and two cleavage directions intersecting at approx. 90°.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
basal sections-symmetrical, longitudinal sections-parallel
Colour/Pleochroism
colourless, gray, pale green, or pale brown. If Fe-rich weak pale brown/green to pale yellow. If Ti-rich, pale purple
Interference Colours (birefringence)
low to mid second-order or below
Relief
high positive
Optic Sign
neg. or pos.
Cleavage
two at 87° and 93°.
2V
25°-70°
Crystal Form
crystals are stubby prisms, elongate along the c-axis, basal x-sections are 4 or 8-sided (2 cleavages visible)
Alteration Products
uralite, serpentine, chlorite, biotite, carbonates
Twinning
simple and lamellar





 Biotite

K(Mg,Fe)3AlSi3O10(OH,O,F)2


Photomicrograph of biotite in ppl showing the characteristic red-brown colour, and one cleavage direction. Also note that the grains that are oriented differently have a different colour, giving some indication of pleochroism. The width of the field of view is 5.5mm.
Photomicrograph of biotite in x-nicols. Some of the crystals show interference colours (although they are often masked by the absorption colours of the mineral). The width of the field of view is 5.5mm.


Biotite is a phyllosilicate that displays pleochroism, parallel extinction, and one perfect cleavage direction.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
parallel
Colour/Pleochroism
brown, brownish-green, reddish-brown/light tan or pink to shades of brown and green; exhibits
Interference Colours (birefringence)
third or fourth-order (may be masked by its colour)
Relief
moderately high positive, low if Mg-rich
Optic Sign
negative
Cleavage
one perfect cleavage
2V
0°-25°
Crystal Form
euhedral, tabular crystals parallel to {001}, with a roughly hexagonal x-section, sometimes micaceous grains with irregular form.
Alteration Products
chlorite, sometimes clay minerals, magnetite
Twinning
rarely visible in thin section






Calcite

CaCO3


Photomicrograph of calcite in ppl showing its lack of colour in plane polarized light. Scanned thin section of marble.
Photomicrograph of calcite in x-nicols showing upper-order interference colours, and lamellar twinning. Scanned thin section of marble.


Calcite is a carbonate which displays high birefringence, a change in relief with rotation, polysynthetic twin lamellae (common), and rhombohedral cleavage.
Properties
Light Behavior
anisotropic-uniaxial
Extinction
inclined or symmetrical
Colour/Pleochroism
white or colourless/none
Interference Colours (birefringence)
creamy high-order colours.
Relief
moderate to high negative-changes with rotation
Optic Sign
negative
Cleavage
three rhombohedral
2V
15°
Crystal Form
crystals are rhombohedral, although they are usually anhedral
Alteration Products
dolomite ?
Twinning
lamellar-parallel or oblique to long diagonal or parallel to the edges of the cleavage rhombs






Chlorite

(Mg,Al,Fe)3(SiAl)4O10(OH)2(Mg,Al,Fe)3(OH)6


Photomicrograph of actinolite in a groundmass of Mg-rich chlorite in PPL.
Photomicrograph of actinolite in a groundmass of Mg-rich chlorite in x-nicols. The photo shows the upper first-order to mid second-order interference colours of actinolite.


Chlorite is a phyllosilicate which is colourless to green, may display pleochroism, with a low birefringence.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
parallel (maximum of 9°)
Colour/Pleochroism
light to medium green/colourless to shades of green
Interference Colours (birefringence)
first-order white or yellow; anomalous purple or brown colours possible
Relief
low to moderate
Optic Sign
negative or positive
Cleavage
one perfect on {001}
2V
0°-40°/0°-60°
Crystal Form
crystals are commonly platy (as in micas), they are rarely tabular parallel to (001)
Alteration Products
fairly resistant, some clay-minerals, iron-oxides
Twinning
composition planes on {001} are difficult to recognize






Cordierite

Mg2Al3(AlSi5)O18


Photomicrograph of cordierite in PPL showing its lack of colour. Also note the clouding pinnate which indicates that it has been altered.
Photomicrograph of cordierite in x-nicols showing its low interference colours, and cyclic twinning.


Cordierite is a tectosilicate that displays low relief, low birefringence, and parallel extinction. The cyclic twinning is distinctive. It is found in Al-rich metamorphic rocks.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
parallel
Colour/Pleochroism
colourless/not common
Interference Colours (birefringence)
first-order white or gray
Relief
low negative or low positive
Optic Sign
negative or positive
Cleavage
1 fair on {010}, 2 poor on {100} and {001}, (not usually obvious in thin section)
2V
40°-90°
Crystal Form
commonly as anhedral grains or irregular porphyroblastic grains, less commonly as euhedral hexagonal prismatic crystals
Alteration Products
pinite (an aggregate of chlorite, muscovite, other silicates)
Twinning
lamellar and cyclic




 
Dolomite

CaMg(CO3)2


Zoned feorran dolomite in thin section, PPL, showing typical dolomite rhombs. ? Hard ground surface.


Dolomite is a carbonate that displays high birefringence, a change in relief with rotation, twin lamellae, rhombohedral cleavage, and is usually euhedral. It is common in sedimentary rocks.
Properties
Light Behavior
anisotropic-uniaxial
Extinction
inclined or symmetrical
Colour/Pleochroism
colourless, may have brownish colour/none
Interference Colours (birefringence)
creamy high-order white or gray
Relief
low negative to high positive-changes with rotation
Optic Sign
negative
Cleavage
perfect-rhombohedral
2V
none
Crystal Form
crystals are rhombohedral, and they are usually euhedral
Alteration Products
may be pseudomorphically replaced by other carbonates
Twinning
lamellar-parallel to long or short diagonal






Enstatite

(Mg,Fe)2Si2O6



Enstatite is an orthopyroxene that has low birefringence, pale pink to green pleochroism, and two cleavage directions intersecting at approx. 90°.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
basal sections-symmetrical, longitudinal sections-parallel
Colour/Pleochroism
pale coloured/subtle pinkish to greenish
Interference Colours (birefringence)
first-order yellow or below
Relief
moderately high to high positive
Optic Sign
positive
Cleavage
two at 87° and 93°
2V
50°-132°
Crystal Form
crystals are stubby prisms, basal x-sections are 4 or 8-sided (2 cleavages visible), longitudinal x-sections are rectangular.
Alteration Products
serpentine or talc
Twinning
none (may have a lamellar structure that resembles twins)






Epidote

Ca2Fe3+Al2O(Si2O7)(SiO4)(OH)



Epidote is a sorosilicate which displays high relief, and weak pleochroism (pale yellow and pale green)
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
variable
Colour/Pleochroism
light yellow-green/colourless to pale yellow or pale green
Interference Colours (birefringence)
upper first-order to third-order; anomalous berlin-blue
Relief
high positive
Optic Sign
negative
Cleavage
one perfect (basal), 1 poor (rarely seen)
2V
64°-90°
Crystal Form
anhedral grains or granular aggregates, crystals are columnar, bladed, or sometimes fibrous, elongate parallel to b-axis
Alteration Products
none
Twinning
lamellar on {100} may be found






Garnet

X3Y2(SiO4)3


Photomicrograph showing chloritoid and garnet in plane polarized light. Both minerals display high positive relief. Chloritoid is light green and pleochroic in ppl whereas garnet is commonly colourless or a light version of the hand sample colour.
Photomicrograph of chloritoid and garnet in crossed polars. Garnet is isotropic and is therefore black. Chloritoid has a good cleavage and often displays simple and lamellar twins. Birefringence is first order yellow colours.


Garnet is an orthosilicate that is isotropic, has high positive relief, and is usually six or eight-sided in cross-section (in thin section). It is commonly found in metamorphic rocks, and it may contain lots of inclusions.
Properties
Light Behavior
isotropic
Extinction
n/a
Colour/Pleochroism
colourless to pale reddish-brown/none
Interference Colours (birefringence)
none (black)
Relief
high positive
Optic Sign
n/a
Cleavage
none
2V
none
Crystal Form
dodecahedral or trapezohedral crystals, which give six or eight-sided x-sections in thin section
Alteration Products
chlorite, occasionally hornblende, epidote Fe-oxides
Twinning
none




 Hornblende

(Na,K)0-1Ca2(Mg,Fe2+,Fe3+,Al)5(Si,Al)8O22(OH)2


Photomicrograph of hornblende in ppl showing the characteristic amphibole cleavage at 56 and 124 degrees. Also note that the colour is different for differently oriented crystals, giving some indication of pleochroism. The black rims are "opacite", a fine grained mixture of magnetite and pyroxene formed from dehydration and reaction with the magma in volcanic rocks. The width of the field of view is 1.35mm.
Photomicrograph of hornblende in x-nicols showing the interference colours (up to second-order), and the characteristic crystal form (diamond-shaped x-section). The width of the field of view is 1.35mm.


Hornblende is the most common amphibole. It displays pleochroism, inclined extinction, and two cleavage directions intersecting at 56° and 124°.
Properties
Light Behavior
anisotropic-biaxial
Extinction
inclined (between 14° and 25°)
Colour/Pleochroism
green, yellow-green, blue-green, or brown/shades of green, yellow, and brown
Interference Colours (birefringence)
upper first-order to lower second-order
Relief
moderate to high positive
Optic Sign
negative or positive
Cleavage
two at 56° and 124°
2V
23°-130°
Crystal Form
prismatic to bladed crystals, with a diamond-shaped x-section (showing cleavage)
Alteration Products
biotite or chlorite, magnetite, "opacite" rims.
Twinning
simple and lamellar